Antara Toga dan Kartu ATM: Dilema Mahasiswa di Tengah Tuntutan Zaman
[Kanal Media UTAMA] Menjadi mahasiswa sering kali dipandang sebagai masa terbaik untuk belajar, bereksplorasi, dan membangun masa depan. Namun, bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia saat ini, kehidupan kampus tidak sesederhana menghadiri perkuliahan dan menyelesaikan tugas akademik. Di balik toga yang suatu hari akan dikenakan saat wisuda, terdapat berbagai perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Bagi banyak mahasiswa, kampus telah menjadi ruang di mana berbagai tuntutan bertemu. Mereka dituntut untuk meraih prestasi akademik yang baik, aktif berorganisasi, mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, membangun jejaring profesional, hingga mempersiapkan karier sejak dini. Di saat yang sama, tidak sedikit mahasiswa yang juga harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Realitas ini dialami oleh banyak mahasiswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah hingga terbatas. Uang kiriman dari orang tua sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti biaya makan, tempat tinggal, dan transportasi. Sementara itu, kebutuhan lain seperti buku, kuota internet, perlengkapan kuliah, hingga biaya tak terduga tetap harus dipenuhi.
Dalam kondisi tersebut, bekerja sambil kuliah menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari. Sebagian mahasiswa memilih menjadi barista, pengemudi layanan transportasi daring, staf toko, tutor, atau pekerja lepas di bidang digital. Hari-hari mereka diisi dengan jadwal yang padat: pagi mengikuti perkuliahan, sore hingga malam bekerja, lalu melanjutkan tugas dan kewajiban akademik ketika sebagian orang telah beristirahat.
Di tengah kesibukan tersebut, muncul pertanyaan yang sering kali terdengar sederhana namun menyimpan beban tersendiri: “Mengapa tidak aktif organisasi?”
Di banyak lingkungan kampus, mahasiswa yang aktif dalam organisasi sering dianggap memiliki nilai tambah. Pengalaman kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan keterampilan bekerja dalam tim memang merupakan bekal yang penting. Tidak sedikit perusahaan, program beasiswa, maupun kegiatan pengembangan diri yang menjadikan pengalaman organisasi sebagai salah satu indikator penilaian.
Namun, persoalan muncul ketika pengalaman organisasi diposisikan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan mahasiswa.